“Teman-teman sudah lulus, kok aku masih di sini?”
“Setelah lulus nanti aku mau jadi apa?”
“Apakah jurusan yang aku pilih sudah benar?”
“Kenapa aku merasa tertinggal dari orang lain?”
“Kenapa aku merasa tertinggal dari orang lain?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika kamu memasuki masa akhir perkuliahan. Di satu sisi, masa wisuda sudah semakin dekat. Namun di sisi lain, justru muncul berbagai kekhawatiran tentang pekerjaan, masa depan, hubungan, kondisi finansial, hingga arah kehidupan.
Bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir, fase ini dapat terasa seperti berada di antara dua dunia: tidak lagi sepenuhnya menjadi mahasiswa, tetapi juga belum merasa siap memasuki kehidupan setelah kuliah.
Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan istilah quarter life crisis.
Apa Itu Quarter Life Crisis?
Quarter life crisis merupakan periode ketika kamu mengalami kebingungan, keraguan, kecemasan, atau tekanan dalam menghadapi berbagai pilihan dan tuntutan kehidupan pada masa transisi menuju kedewasaan.
Istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan pengalaman individu pada rentang usia dewasa awal, ketika kamu mulai menghadapi pertanyaan yang lebih serius mengenai siapa dirimu, apa yang ingin kamu capai, bagaimana menjalani kehidupan, dan ke mana arah masa depanmu.
Quarter life crisis bukan diagnosis gangguan mental. Artinya, ketika kamu sedang bingung mengenai masa depan, bukan berarti kamu otomatis mengalami gangguan psikologis.
Namun, apabila tekanan tersebut berlangsung cukup lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, proses akademik, pekerjaan, atau kesejahteraan psikologismu, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Mengapa Mahasiswa Tingkat Akhir Rentan Mengalaminya?
Masa akhir perkuliahan merupakan periode transisi yang cukup besar. Selama beberapa tahun, kamu memiliki struktur yang relatif jelas: mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan menyelesaikan berbagai kewajiban akademik.
Kemudian, secara perlahan muncul pertanyaan:
“Setelah ini apa?”
Tidak semua mahasiswa memiliki jawaban yang jelas.
Beberapa faktor dapat membuat masa transisi ini terasa semakin berat, yaitu :
1. Ketidakpastian mengenai karier
Menjelang kelulusan, kamu mulai dihadapkan pada pilihan karier. Mungkin kamu sudah mengetahui pekerjaan yang ingin ditekuni, tetapi bisa juga kamu justru merasa tidak tahu harus memulai dari mana.
Memilih pekerjaan bukan hanya persoalan mendapatkan penghasilan. Bagi sebagian mahasiswa, pekerjaan juga berkaitan dengan identitas, tujuan hidup, kebutuhan keluarga, dan gambaran masa depan.
Karena itu, keputusan mengenai karier dapat terasa sangat menentukan.
2. Membandingkan diri dengan teman sebaya
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat lebih mudah untuk dibandingkan.
Ketika kamu melihat teman sudah mendapatkan pekerjaan, melanjutkan studi, menikah, membangun bisnis, atau mencapai sesuatu yang dianggap sukses, kamu mungkin mulai berpikir:
“Kenapa aku belum seperti mereka?”
Perbandingan sosial seperti ini dapat membuat kamu merasa tertinggal, meskipun setiap individu sebenarnya memiliki kondisi, kesempatan, sumber daya, dan perjalanan hidup yang berbeda.
3. Tekanan dari keluarga dan lingkungan
Pertanyaan seperti:
- “Kapan lulus?”
- “Setelah lulus mau kerja di mana?”
- “Kapan dapat pekerjaan?”
- “Masa sudah sarjana masih belum kerja?”
- “Kapan menikah?”
Bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana. Namun ketika pertanyaan tersebut muncul berulang kali, kamu dapat merasa semakin tertekan.
Tekanan tidak selalu berasal dari tuntutan yang disampaikan secara langsung. Ekspektasi yang kamu rasakan terhadap dirimu sendiri juga dapat menjadi sumber tekanan.
4. Meragukan pilihan yang sudah dibuat
Mahasiswa tingkat akhir terkadang mulai mempertanyakan keputusan yang pernah dibuat.
“Benarkah aku memilih jurusan yang tepat?”
“Kalau dulu mengambil jurusan lain, apakah hidupku akan berbeda?”
Keraguan semacam ini dapat muncul terutama ketika kamu mulai memikirkan dunia kerja dan menyadari bahwa bidang pekerjaan yang tersedia mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasimu ketika memilih jurusan.
5. Takut menghadapi kegagalan
Menjelang kelulusan, kegagalan dapat terasa semakin nyata.
Tidak mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, ditolak perusahaan, gagal dalam proses seleksi, skripsi yang mengalami revisi berkali-kali, atau belum mengetahui arah karier dapat membuat kamu mempertanyakan kemampuan diri sendiri.
Padahal, mengalami kegagalan dalam proses transisi menuju kehidupan dewasa merupakan bagian yang mungkin terjadi dalam perjalanan setiap individu.
Seperti Apa Tanda-Tandanya?
Quarter life crisis dapat muncul dalam bentuk yang berbeda pada setiap orang.
Beberapa pengalaman yang mungkin kamu rasakan antara lain:
- Sering merasa bingung mengenai masa depan;
- Merasa tidak memiliki arah hidup yang jelas;
- Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain;
- Merasa tertinggal dari teman sebaya;
- Khawatir tidak mendapatkan pekerjaan;
- Meragukan kemampuan diri sendiri;
- Sulit mengambil keputusan mengenai karier;
- Merasa tertekan dengan ekspektasi keluarga;
- Kehilangan motivasi terhadap aktivitas yang sebelumnya dilakukan;
- Terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk mengenai masa depan;
- Merasa harus segera mencapai sesuatu sebelum “terlambat”.
Namun, penting untuk tidak langsung memberi label pada dirimu sendiri hanya berdasarkan beberapa tanda tersebut.
Kebingungan dan kecemasan dalam menghadapi masa depan dapat menjadi bagian dari proses perkembangan. Yang perlu diperhatikan adalah intensitas, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Apakah Quarter Life Crisis Itu Selalu Buruk?
Tidak selalu.
Masa penuh pertanyaan justru dapat menjadi kesempatan bagi kamu untuk mengenali diri dengan lebih baik.
Ketika kamu mulai bertanya tentang karier, nilai hidup, hubungan, dan masa depan, sebenarnya kamu sedang melakukan proses evaluasi terhadap kehidupanmu.
Masalahnya bukan semata-mata karena kamu memiliki banyak pertanyaan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika pertanyaan tersebut membuat kamu terus-menerus terjebak dalam kecemasan tanpa mampu bergerak untuk mencari solusi.
Karena itu, tujuan menghadapi quarter life crisis bukan selalu untuk “menghilangkan semua kebingungan”, tetapi belajar memahami kebingungan tersebut dan menentukan langkah yang realistis.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
1. Berhenti sejenak dan mengenali apa yang sebenarnya kamu rasakan
Cobalah bertanya kepada dirimu sendiri:
“Apa yang sebenarnya membuat aku cemas?”
Apakah karena belum mendapatkan pekerjaan? Takut mengecewakan keluarga? Merasa tertinggal dari teman? Atau sebenarnya belum mengetahui apa yang kamu inginkan?
Mengetahui sumber masalah dapat membantu kamu menentukan langkah yang lebih tepat.
2. Jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran utama
Keberhasilan seseorang tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung dengan kehidupanmu.
Ada orang yang mendapatkan pekerjaan segera setelah lulus. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada yang melanjutkan studi. Ada pula yang mencoba berbagai pekerjaan sebelum menemukan bidang yang sesuai.
Cepat bukan berarti selalu lebih baik, dan lambat bukan berarti gagal.
3. Pecah tujuan besar menjadi langkah kecil
Masa depan yang terlalu luas dapat terasa menakutkan jika kamu memikirkannya sekaligus.
Daripada bertanya:
“Bagaimana hidupku lima tahun lagi?”
cobalah mengubahnya menjadi:
“Apa yang bisa aku lakukan minggu ini?”
Misalnya memperbarui CV, mencari informasi lowongan, mengikuti pelatihan, membangun portofolio, berkonsultasi dengan dosen, atau mengeksplorasi bidang pekerjaan yang kamu minati.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi perasaan tidak berdaya.
4. Berbicara dengan orang yang kamu percaya
Tidak semua masalah harus kamu selesaikan sendirian.
Berbicara dengan teman, keluarga, dosen, mentor, atau orang yang memiliki pengalaman di bidang yang ingin kamu tekuni dapat membantu kamu melihat situasi dari perspektif yang berbeda.
5. Berikan ruang untuk proses
Menjadi dewasa bukan perlombaan.
Tidak semua orang memiliki garis waktu kehidupan yang sama. Ada individu yang menemukan arah karier lebih cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengenali dirinya.
Mengenali diri, mencoba, gagal, mengevaluasi, dan mencoba kembali merupakan bagian dari proses perkembangan.
Kapan Kamu Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?
Merasa bingung mengenai masa depan merupakan pengalaman yang dapat terjadi pada banyak mahasiswa. Namun, bantuan profesional dapat dipertimbangkan apabila tekanan yang kamu alami mulai terasa berat atau mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya ketika kamu:
- Terus-menerus merasa cemas atau tertekan;
- Mengalami perubahan tidur atau pola makan yang signifikan;
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan;
- Mengalami kesulitan menjalankan aktivitas akademik atau pekerjaan;
- Menarik diri dari lingkungan sosial;
- Merasa tidak mampu menghadapi masalah;
- atau mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Konsultasi dengan psikolog bukan berarti kamu “lemah” atau pasti mengalami gangguan mental.
Konsultasi dapat menjadi ruang untuk memahami apa yang sedang kamu alami, mengenali pola pikiran dan emosi, serta mencari strategi yang lebih sesuai dengan kondisimu.
Kamu Tidak Harus Memiliki Semua Jawaban Sekarang
Menjadi mahasiswa tingkat akhir berarti berada dalam sebuah fase transisi. Wajar jika ada banyak hal yang belum pasti.
Kamu mungkin belum tahu pekerjaan apa yang akan dijalani.
Kamu mungkin belum tahu lima tahun lagi akan berada di mana.
Kamu mungkin masih mencari tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Dan itu tidak membuatmu gagal.
Tidak semua pertanyaan tentang masa depan harus memiliki jawaban hari ini.
Terkadang, yang kamu butuhkan bukan jawaban yang sempurna, tetapi satu langkah kecil yang bisa kamu lakukan sekarang.
Butuh Ruang untuk Memahami Dirimu?
Jika kebingungan mengenai masa depan, tekanan akademik, kecemasan menghadapi kelulusan, atau berbagai pikiran tentang kehidupan setelah kuliah mulai terasa berat, kamu tidak harus menghadapinya sendirian.
Frame Psikologi hadir sebagai ruang aman untuk membantu kamu memahami diri, mengenali apa yang sedang kamu rasakan, dan menemukan langkah yang lebih sesuai dengan kondisimu.
Kamu dapat berkonsultasi dengan psikolog profesional di Frame Psikologi untuk membicarakan berbagai hal yang sedang kamu hadapi, termasuk persoalan akademik, karier, relasi, kecemasan, maupun proses transisi menuju kehidupan setelah perkuliahan.
Tidak harus menunggu sampai semuanya terasa berat. Mencari bantuan juga merupakan bagian dari merawat diri.
Ingin mulai bercerita? Konsultasikan kondisi dan kebutuhanmu bersama psikolog Frame Psikologi.