Terima kasih sudah bercerita di forum ini. Saya melihat kondisi ini tidak selalu berarti kamu malas atau tidak mampu. Kemampuan mengerjakan skripsi dan kemampuan untuk memulai mengerjakannya adalah dua hal yang berbeda. Skripsi merupakan tugas yang kompleks, dan hasilnya sering terasa sangat menentukan masa depan. Karena itu, ketika akan mulai, bisa muncul kecemasan, takut salah, takut mendapat banyak revisi, takut hasilnya tidak sesuai harapan, atau bingung harus memulai dari mana. Akhirnya, otak memilih menghindari tugas tersebut karena menunda memberikan rasa lega untuk sementara.
Masalahnya kemudian dapat membentuk sebuah siklus: merasa berat, lalu menunda, sehingga merasa lega sementara, namun waktu semakin sedikit, akan membuat kamu merasa bersalah, semakin stress, lalu skripsi terasa semakin berat, dan kembali menunda. Pada sebagian mahasiswa, perfeksionisme juga memperkuat siklus ini. Misalnya, merasa bahwa tulisan harus langsung bagus atau harus memahami semuanya terlebih dahulu sebelum mulai. Padahal, skripsi memang merupakan proses yang terdiri dari menulis, mendapatkan masukan, melakukan kesalahan, dan memperbaikinya. Jadi, yang perlu diubah bukan hanya “menambah motivasi”, tetapi juga cara memandang tugas dan merespons rasa tidak nyaman ketika mengerjakannya.
Karena itu, jangan meminta diri sendiri “harus menyelesaikan skripsi”, tetapi ubahlah menjadi “apa satu langkah kecil yang bisa saya kerjakan sekarang?” Misalnya, membaca dua jurnal, memperbaiki satu paragraf, membuat satu tabel penelitian terdahulu, atau bekerja selama 15–20 menit. Coba juga tanyakan kepada diri sendiri, “Sebenarnya apa yang paling membuat saya berat mengerjakan skripsi: takut salah, takut mengecewakan dosen, bingung, lelah, atau takut menghadapi masa depan setelah lulus?” Dengan memahami sumber hambatannya, kamu akan lebih mudah menentukan strategi. Jadi, kamu bisa saja memang mampu mengerjakan skripsi, tetapi sedang mengalami hambatan psikologis dalam memulai dan mempertahankan prosesnya.
Semoga membantu ya